Celengan Babi 2026

Motivator dan influencer di jejaring sosial ramai-ramai kasih alarm tanda bahaya di awal tahun 2026 ini, mulai dari potensi konflik US-Iran, IHSG anjlok, megaproyek tertunda, sampai kasus anak bunuh diri di NTT karena tidak bisa membeli alat tulis untuk sekolah. Pada sisi lain, pemerintah sebagai pengemban amanah rakyat mencoba untuk tetap memberikan motivasi terbaik agar rakyat tetap tenang, tetap berkarya, dan tetap berhemat. Pegiat UMKM (Usaha Mikro Kecil Miliaran, Aamiin ya Rabbal Alamiin) seperti kami hanya bisa tetap berjuang sekuat tenaga agar proyek tetap berjalan, gaji karyawan rutin terbayar, dan klien tidak telat membayar tagihan. Seperti banyak usaha pendukung konstruksi lainnya, kondisi gonjang-ganjing dunia seperti ini pasti berpengaruh kepada usaha coating, painting, dan fireproofing yang kami jalani.

Hujan rintik-rintik yang turun di Senin pagi tidak mematahkan semangat Sarkodi untuk tetap berangkat kerja. Tatapan kosong ke jendela Transjakarta yang basah oleh titik-titik air dibarengi isi pikirannya yang campur aduk tentang cara bagaimana bertahan hidup di ibukota. Satu hal yang semakin disadari, memasuki tahun 2026 ini tidak bisa foya-foya lagi.

Salah satu kebiasannya yang patut ditiru para generasi Z seusianya adalah selalu menyisihkan uang operasional harian yang dialokasikan dari gaji ke dalam celengan babi (piggy dalam Bahasa Inggris toh?) setiap hari. Jumlahnya tidak besar, hanya sepuluh hingga dua puluh ribu rupiah setiap hari. Tujuannya tidak muluk-muluk, paling tidak dia bisa punya pegangan ketika tiba-tiba, amit-mait, di-PHK dari tempat dia bekerja saat ini, atau jika Covid jilid II terjadi menghantam negeri, pun ketika terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut pemerintah untuk mundur #ehh. Kantornya yang bergerak di bidang coating, painting dan fireproofing pun sedikit banyak terkena dampak dari suasana negeri dan bumi ini yang gonjang-ganjing.

Sarkodi menatap 2026 tidak sepenuhnya optimistis, tapi tetap harus semangat karena didikan orang tuanya bahwa rejeki sudah ada yang mengatur. Tapi tetap saja awal tahun ini bikin cemas dengan segala dramanya. Tekadnya, sekarang dia harus makin berhemat. Piggy bank harus diisi makin intensif, dan artinya budget ngopi yang tadinya sehari bisa Rp. 25 ribu mungkin harus dikurangi jadi hanya Rp. 15 ribu, tentunya dengan konsekuensi downgrade kopi kekinian yang budget-nya harus disesuaikan.

Bekel makan siang yang disiapkan dari rumah menjadi harga mati agar tidak jajan makan siang di kantin Menara, tempat dimana kantor tempatnya mengais rejeki di bidang coating, painting dan fireproofing berada. Asumsinya, akan ada penambahan alokasi duit yang masuk ke celengan babinya sebesar Rp. 15 sampai dengan Rp. 20 ribu perhari sebagai persiapan ketika negara api menyerang. Kalau dilihat dari cuap-cuap para perencana keuangan, dibutuhkan dana darurat paling tidak sepuluh kali lipat dari gaji bulanan agar tetap stabil ketika kemungkinan terburuk terjadi menimpa kita. Alhasil, mantra cash is the king sepertinya banyak benarnya, terutama ketika ketidakpastian sedang pelan-pelan menyelubungi bumi ini.

oleh : Adi Hersuni, 2026